Sepi menggamit disebalik keriuhan kota, di sebuah jendela kamar nan usang itu terlihat jelas kehijauan dan kicauan burung-burung yang beterbangan bebas. Ku terpandang pada sebuah layang-layang lalu ku hayati betapa gah dan tingginya ia berada. Di sebalik mega nan biru itu dirinya meliuk lentuk, menari galak seolah-olah mengiringi alunan muzik yang simfoni. Tanpa keluhan ia tetap menari dan terus menari. Seolah-olah ia tersenyum riang. Memerhati batas padang terukir bagaikan lakaran peta.
Hidupnya keseorangan bertuankan si pelagak lari, bertemankan hembusan udara, walaupun panas terik mentari yang membakar diri dan mendung suram menemani ia masih mampu tersenyum, kerana itu adalah kekasihnya.
Disaat mendung kelabu menutup tirai kamar jendela langit, ianya cukup gelisah. Dentuman halilintar dengan tangisan mendung yang mengalir di tali yang dibelenggu dilehernya itu, bagaikan peluru yang menusuk disaat hujan menitiskan air matanya. Berhempas pulas ia melawan lembayu keras itu lantas terkoyak kertas yang menutupi tubuhnya dan ia tahu itulah saat terakihir buatnya.
Ku sedari betapa hidup ini ibarat layang-layang. Di saat kegembiraan pasti ada kesedihan, dan setiap yang bermula pasti ada yang berakhir.



0 comments:
Post a Comment